Lajur Khusus Sepeda

03-04-2015 |
| ,

ADA usulan menarik yg dilontarkan Anugrah Nurrewa, salah seseorang pegiat sepeda dari Bike Bandung, soal lajur husus sepeda di Kota Bandung. Tuturnya, jalan-jalan di Kota Bandung yg mungil menciptakan lajur husus sepeda ini jadi kurang efektif. Pengendara sepeda, hasilnya terpaksa masih mesti berjibaku, beradu bersama para pengendara mobil & motor yg amat sering tidak ingin mengalah. 


Usulan Anugrah yaitu bersama edit "pesaing" para pesepeda ini dgn "lawan" yg lebih gampang. Menurut mahasiswa S2 ITB jurusan Transportasi ini, pesaing yg lebih enteng bagi para pesepeda yakni para pejalan kaki. 


Lantaran itu, lajur sepeda ini sebaiknya tidak dibangun dijalan raya, melainkan di trotoar. "Space trotoar di Kota Bandung kan kini telah diperluas sebab gorong-gorong telah sejak mulai ditutup. Nah, itu mampu dibuat bike lanes," kata Anugrah (Tribun Jawa Barat, Selasa 31/3). Harga Sepeda united Terbaru


Namanya pula usulan, kita pasti boleh setuju, boleh serta tak. Menyaksikan logika yg disampaikannya, usulan ini rasa-rasanya benar-benar masuk akal pun. Kecuali satu aspek : Anugrah mungkin saja lupa bahwa tidak sedikit trotoar di kota ini pun bermasalah. 


Di sebanyak kawasan di kota ini, trotoar pun identik dgn lapak PKL. Tonton saja dijalan Otista, Jalan Sukajadi, atau dijalan nasional, Soekarno Hatta. Di sekian banyak titik trotoar bahkan "dimakan" habis oleh PKL. Utk berlangsung saja sulit, terlebih bersepeda. Seperti diungkap pakar Planologi ITB, Denny Zulkaidi, jalanan di Kota Bandung yg sempit- sempit sedari awal benar-benar tak dirancang utk jalur sepeda. Padahal, idealnya lebar lajur sepeda ini, buat satu arah saja, setidak-tidaknya 1,4 m. Itu sebabnya, waktu lajur sepeda ini konsisten dipaksakan ada, lebar lajur sepeda pun disesuaikan jadi 1 m. 


Kesusahan setelah itu bertambah sebab garis putus-putus yg jadi pembatas lajur husus sepeda macam mana pula tidak mempunyai "kekuatan hukum". Siapa juga mampu menggunakan & menerobosnya lantaran garis putus-putus pula berarti bahwa lajur kusus sepeda ini sebenarnya tak berlaku ekslusif. Dapat lain narasi jikalau kalau jalur ini eksklusif & sanksinya tilang. 


Permasalahan mirip sebenarnya pula berlangsung kepada jalur bus TMB yg kini serta masihlah "bergabung" bersama jalur lambat "milik" para pengendara roda dua. Terhadap masalah ini pemkot serta menghadapi dilema. Di satu sudut kita membutuhkan trasportasi massal. Namun, di sudut lain, besar nya bus menyita lebih dari separuh jalan. 


Andai saja bus tersebut konsisten melaju dari tidak dengan berakhir sebelum hingga ke penghentian akhir, besar nya bodi bus kemungkinan tidak dapat terlampaui masalah. Tetapi, bus dalam kenyataannya pun mesti menarik penumpang di sana-sini. Kemacetan kendaraan jadi persoalan yg tidak terhindarkan. 


Kembali ke soal sepeda, dalam hierarki prioritas dijalan raya, transportasi umum, termasuk juga bus, sebenarnya masuk terhadap tingkat ke-3 dibawah pesepeda. Prioritas mula-mula di jalan raya berdasar hierarki ini merupakan pejalan kaki, & yg terakhir ialah kendaraan pribadi. 


Persoalannya, di kota ini, hierarki ini telah terbalik-balik. Sample mungil saja soal halte bus. Di sekian banyak titik tetap dibangun diatas trotoar, & ini pasti membingungkan. Menjadi macam mana dgn lajur sepeda?


Keywords : harga sepeda,